Program Studi Ilmu Kelautan Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung menggelar kuliah umum bertajuk “Fenomena Oseanografi Samudera Hindia dan Kaitannya dengan Cuaca Ekstrem di Lampung” pada Jumat, 11 April 2025. Kegiatan ini dirancang untuk sharing knowledge tentang dinamika laut di Samudera Hindia serta bagaimana fenomena tersebut berpengaruh terhadap terjadinya cuaca ekstrem di daerah Lampung. Kuliah umum ini berhasil menarik 218 peserta, meliputi mahasiswa, dosen, dan praktisi di bidang perikanan serta kelautan, yang bersama-sama berupaya meningkatkan pemahaman dan solusi strategis terhadap tantangan lingkungan yang ada.
Pada acara kuliah umum kali ini menghadirkan pemateri Prof. Dr. Sc. Anindya Wirasatriya, S.T., M.Si., M.Sc dari Universitas Diponegoro yang menyampaikan materi tentang Proses dan Dampak IOD Terhadap Kejadian Kekeringan dan Upwelling di Indonesia dan Loïc Sababady dari Université Paul Valery Montpellier dengan tema Floods and Their Impacts Reducing Risks for the Future With Mapping. Dengan moderator yaitu Anma Hari Kusuma, S.I.K., M.Si (Dosen Ilmu Kelautan JPIK,FP-Unila)
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Sc. Anindya Wirasatriya, S.T., M.Si., M.Sc menyampaikan adanya dampak dari IOD terhadap iklim. Salah satu dampaknya dapat mempengaruhi musim di Indonesia. Ketika terjadi musim timur saat bulan (Juni-Agustus) dimana angin bergerak dari Australia ke Asia dengan membawa sedikit uap air, sehingga menyebabkan terjadinya musim kemarau. Pada musim barat yang terjadi pada bulan (Desember-Februari) angin bergerak dari Asia ke Australia membawa uap yang cukup tinggi, sehingga terjadi musim hujan. Hal ini dapat terjadi, karena adanya perbedaan tekanan. Indian Ocean Dipole (IOD) positif terjadi saat anomaly SPL di ekuator Samudra Hindia bagian Barat sehingga menimbulkan banyak curah hujan di pesisir timur Afrika dan kekeringan di Indonesia dan Australia. Sebaliknya jika anomaly SPL ini terjadi di bagian timur lebih tinggi dari bagian barat maka terjadilah IOD negative. Hal ini dapat memicu upwelling dan mendinginkan suhu permukaan laut di bagian Timur. Upwelling merupakan salah satu fenomena interaksi atmosfer-laut yang ditandai dengan naiknya masa air dari kolom air yang lebih dalam menuju permukaan. Upwelling terjadi karena massa air yang terbawa akan mendinginkan suhu permukaan laut, sehingga dapat menyebabkan terjadinya blooming klorofil. Fenomena ini menjadi penting dalam hal penangkapan ikan.
Sedangkan dalam pemaparan Loïc Sababady menyampaikan bencana alam banjir dapat mengakibatkan kerugian ekonomi, kerusakan lingkungan, dan gangguan sosial, dengan menyoroti peran faktor-faktor seperti curah hujan ekstrem, deforestasi, sistem drainase yang kurang memadai, dan perubahan iklim. Ditambah lagi, fenomena urbanisasi yang mengurangi luasan permukaan resapan air serta aliran air menjadi lebih cepat turut memperburuk kondisi banjir, seperti yang diilustrasikan dalam studi kasus banjir di Bandar Lampung pada Februari 2025. Melalui pemetaan risiko dan identifikasi area rawan menekankan perlunya kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan guna meningkatkan kesiapsiagaan, mengurangi kerentanan, dan mengimplementasikan solusi mitigasi yang efektif untuk menghadapi tantangan banjir di masa depan.






